I LOVE IPB
IPB Badge
My Calender
May 2014
S M T W T F S
« Nov    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Agronomi dan Hortikultura, saat itu memang nama yang terdengar cukup asing bagi telinga saya. Sayapun tak pernah membayangkan bahwa saya akan tertarik dengan pertanian karena memang Agronomi Hortikultura adalah salah satu Jurusan di fakultas pertanian IPB. Dan pertanian pun menjadi hal yang baru bagi saya termasuk Agronomi dan hortikultura. Apa itu agronomi dan hortikultura itulah pertanyaan yang membuat saya penasaran saat memilih jurusan di IPB. Akhirnya pertanyaan saya pun terjawab saat membaca brosur Departemen Agronomi dan Hortikultura. Namun sebagai orang awam saya hanya menangkap dasarnya saja yaitu ilmu tentang pertanian tentang cara bertanam tanaman sayur, tanaman obat, tanaman hias dan tanaman buah juga belajar tentang genetika tanaman yang pasti berkaitan dengan ilmu biologi.

Saat itu formulir pendaftaran USMI IPB sudah ditangan. Saya coba meminta pendapat dari Orang Tua. Menurut mereka pilihan ku itulah yang terbaik mereka tetap mendukungnya. Saya berpikir, IPB adalah institut yang berlatar belakang pertanian, saya pun harus memilih yang benar-benar pertanian. Aku sangat suka menanam tanaman-tanaman hias atau menanam biji-biji buah dirumah sebelumnya, mungkin saya bisa menjadi seorang breeder suatu hari nanti. Karena itulah langsung saya tetapkan Agronomi dan Hortikultura sebagai pilihan pertama saya dan pilihan keduanya adalah Manajemen Sumberdaya Perairan dijalur USMI IPB.

Perjalanan cukup panjang memilih sebuah universitas. Pertanian memang belum begitu melekat dihati saya sepenuhnya. Saya pun mencoba memilih UI sebagai universitas kedua yang saya pilih. Melewati jalur SIMAK UI saya memilih jurusan ekonomi sebagai pilihan pertama saya. Saya memang berharap bisa diterima. Namun Allah berkehendak lain, mungkin menurutNya IPB adalah universitas yang cocok untuk saya. Kira-kira pada bulan maret, sekolah saya, SMAN 9 Jakarta mengumumkan bahwa saya diterima di IPB dengan jurusan Agronomi dan Hortikultura. Alhamdulillah, saya percaya rencanaNya itu INDAH….

Tak cukup disitu cerita tentang keputusan saya memilih pertanian sebagai masa depan saya. Pastinya banyak yang kontra dengan pilihan saya. Mereka yang tak tahu apa-apa tentang pertanian selalu menganggap pertanian sebelah mata dan tidak bisa diharapkan. Saya  tinggal di kota Jakarta, ada yang memilih fakultas pertanian mungkin menurut mereka sesuatu yang aneh karena menurut mereka “kamu mau jadi petani”. Petani yang disawah dengan baju lusuh mencangkul dibawah sinar terik matahari dan miskin. Pandangan mereka membuat saya down. Namun ribuan kali lagi saya harus mengucap syukur karena mempunyai keluarga besar yang selau mendukung saya, terlebih Ibu dan Kakek saya. Biarkan perkataan mereka yang tak tahu apa-apa itu sebagai batu loncatan untuk melatih mental saya. Man jadda Wa jada !

Terbukti, ternyata pertanian memang menyenangkan untuk dipelajari. Di Departemen Agronomi dan Hortikultura saya memulai mengerti apa itu yang dinamakan pertanian dalam arti sebenarnya. Saya juga mengikuti berbagai kegiatan non akademis di HIMAGRON (Himpunan Mahasiswa Agronomi di IPB) untuk belajar menjadi seorang mahasiswa. Mahasiswa yang CINTA akan PERTANIAN. I LOVE AGRICULTURE!

Oleh: Wannofri Samry
Sabtu, 20 November 2010 | 09:45 WIB

KOMPAS.com – Paling tidak lima tahun terakhir universitas-universitas di Indonesia secara serentak menslogankan ”universitas kelas dunia” seperti nyanyi vokal yang tidak jelas bunyi awal dan akhirnya. Bunyi nyanyi itu indah didengar dan dibayangkan, tetapi buruk dilihat dan pahit dirasakan. Realitasnya, universitas-universitas di Indonesia tidak pernah menduduki peringkat puncak di Asia, bahkan di Asia Tenggara.

Dibandingkan dua jirannya, Malaysia dan Singapura, keterpurukan itu terlihat jelas. Beberapa universitas Malaysia dan Singapura pernah menduduki posisi puncak Asia. National University Singapura, misalnya, di ranking ketiga Asia tahun 2009, Universiti Malaya di ranking ke-4 Asia (2004), dan Universitas Kebangsaan Malaysia masuk 200 dunia pada 2006.

Tahun ini, dari ranking versi QS (London), Indonesia secara keseluruhan belum mencatat capaian impresif, betapapun banyak komentar subyektif mengagulkan diri dari pejabat perguruan tinggi. Ketika Malaysia menempatkan lima universitasnya dalam 100 terbaik Asia, Indonesia hanya menempatkan dua universitas.

Universiti Malaya (Malaysia) di ranking 42 Asia, turun setingkat dari 2009, Universiti Kebangsaan Malaysia (58), Universiti Sains Malaysia (69), Universiti Putra Malaysia (77) dan Universiti Teknologi Malaysia (90). Sementara Indonesia, posisi terbaik dicapai Universitas Indonesia (UI) yang masuk 50 besar Asia dan Universitas Gajah Mada (UGM, 85). Selebihnya di luar angka 100.

Institut Teknologi Bandung (ITB) terlempar ke peringkat 113 Asia, kalah dari Universitas Airlangga (Unair, 109). Sementara Institut Pertanian Bogor (IPB) di peringkat 119 dan Universitas Padjadjaran (Unpad) serta Universitas Diponegoro (Undip) di ranking 161.

Universitas luar Jawa yang tertua, Universitas Andalas Padang dan Universitas Makassar tidak masuk 200 Asia. Apa sebenarnya kunci di balik sukses dan ”sukses” para universitas di atas? Perbandingan bisa menjadi salah satu ilustrasi.

Lemah basis pustaka

Adalah kenyataan, di Indonesia universitas yang masuk peringkat 200 besar Asia adalah universitas yang ada di Pulau Jawa. Maknanya, pembangunan pendidikan tinggi ternyata masih berfokus di pusat-pusat kekuasaan. Satu warisan sentralisme sejak awal republik, bahkan sejak kolonial. Di luar itu, universitas-universitas di Indonesia juga belum memiliki satu kebijakan pendidikan yang progresif dan reformatif untuk—katakanlah—membangun sistem dan fasilitas pendidikan berkelas dunia.

Di Malaysia, fasilitas dunia segera tampak hampir di semua fasilitasnya, mulai laboratorium, ruang kuliah, perpustakaan, sampai anggaran operasionalnya. Sementara di Indonesia, dari segi perpustakaan saja, Universitas Indonesia (kini masuk 50 Asia) hanya bisa meminjamkan lima buku ke tiap mahasiswa, durasi 15 hari, dengan perpanjangan 45 hari. Sistem peminjaman dan pengadaannya juga umumnya bersifat lokal, bahkan manual.

Di Malaysia, semua mahasiswa bisa meminjam 20 buku per kartu, masa pinjam 40 hari dan bisa diperpanjang sampai 140 hari. Semua dilengkapi sistem jejaring elektronik dan dapat bertukar akses dengan berbagai perguruan tinggi dunia.

Perguruan tinggi di Malaysia amat sadar akan pentingnya buku. Itu terlihat dari upaya keras mereka meningkatkan kuantitas koleksi tiap tahun. Mereka punya tim pemburu buku dan jaringan pemesanan buku di berbagai tempat di dunia, termasuk Indonesia. Tidak salah jika berbagai terbitan dan kliping Indonesia disimpan di sejumlah universitas Malaysia. Kita dengan mudah menemukan koleksi lengkap majalah Editor, Tempo, Pandji Masyarakat, Suara Mesjid, Horison, dan majalah yang (mungkin) dianggap tak penting di Indonesia seperti Aneka Minang—terbit tahun 1970-an. Kita pun bisa mendapat majalah terbitan Hindia Belanda seperti Indische Verslag, Koloniale Studien, De journalistiek van Indie, dan Kroniek Oostkust van Sumatra Instituut, sekadar contoh.

Semua majalah itu disimpan bersama ribuan jurnal lama dan terbaru dari berbagai disiplin ilmu yang terbit dari berbagai sudut dunia, dari berbagai universitas terkemuka dunia. Perpustakaan mereka dilengkapi ruang audio visual, yang menyimpan dokumen mikrofilm, CD-DVD, kaset, dan film. Juga disediakan ruangan untuk mahasiswa peneliti, ruang diskusi, dan ruang laboratorium komputer-cyber, serta bioskop mini untuk memutar film.

Tidak salah jika mahasiswa Muslim Asia berbondong-bondong ke Malaysia untuk melanjutkan studi, termasuk dari Indonesia. Semua bisa mendapat beasiswa dan menjadi asisten riset. Gajinya jelas lebih besar dari gaji dosen golongan IVa di Indonesia.

Di Indonesia

Indonesia dengan kebijakan hebat meningkatkan porsi anggaran pendidikan hingga 20 persen, ternyata malah cenderung menswastakan universitas negeri. Artinya, memindahkan beban yang harus dipikul negara ke rakyat banyak. Dengan PDB tertinggi di ASEAN, sekitar 5.000 triliun rupiah, porsi 20 persen dari APBN tentu sangat signifikan. Namun, mengapa justru perguruan tinggi makin menguatkan diri sebagai komoditas mewah yang bisa diakses hanya oleh sebagian kecil penduduk?

Sebenarnya Indonesia hingga saat ini—walau diam-diam—masih jadi acuan utama bagi Malaysia, dan mungkin bagi sebagian negara ASEAN. Bangsa Indonesia disukai karena dianggap lebih dinamis, kreatif, dan egaliter—ini sangat disenangi dosen-dosen Malaysia.

Bangsa Indonesia memiliki dasar historis dan basis budaya pendidikan yang kuat dibandingkan Malaysia atau negara lain. Gairah intelektualnya lebih dahulu muncul dibandingkan Malaysia. Kondisi geografis, politis, historis, hingga kultural Indonesia menempati posisi tersendiri karena kekayaan, kebesaran, dan kematangannya.

Namun, sayang, semua itu tidak dijadikan dasar kuat membuat perguruan tinggi yang bisa menjadi acuan terbaik. Kita ingat, di abad ke-7, di masa Sriwijaya, kita sudah punya universitas yang jadi acuan banyak negara. Mungkin itu salah satu universitas tertua di dunia.

Sayang sekali, kita seperti tertidur dalam kemewahan warisan hebat di atas. Adakah karena kebijakan dan sistem yang tidak cerdas atau manusianya yang tidak cerdas. Jawabannya harus kita dapatkan bersama. Bersama-sama.

Penulis adalah Dosen Universitas Andalas, Mahasiswa Doktoral Universiti Kebangsaan Malaysia

Sumber : Kompas

Kompas.com- Tak sedikit orang yang merasa ada yang kurang jika belum minum teh di pagi hari. Kebiasaan ini ternyata menguntungkan kesehatan. Penelitian terbaru menyebutkan, tiga cangkir teh setiap hari akan membantu kita menurunkan ancaman penyakit jantung.

Baik teh hijau atau teh hitam, bila diminum secara rutin, ternyata bermanfaat untuk mencegah timbunan plak pada arteri. Bersama dengan lemak dan kolesterol, plak merupakan penyebab utama serangan jantung dan stroke.

Penelitian yang dilakukan para ahli dari Australia menyebutkan manfaat terbesar dari teh berasal dari kandungan flavonoid, jenis antioksidan yang efektif melawan penyakit kardiovaskular. Dalam secangkir teh terdapat 150-2000 mg flavonoid.

Untuk mendapatkan antioksidan yang cukup, dua cangkir teh setara dengan lima porsi sayur atau dua apel. Riset yang dimuat dalam Science Journal Molecular Aspect of Medicine ini juga mengatakan kandungan flavonoid dalam teh hitam tak jauh berbeda dengan teh hijau.

“Hasil riset ini secara konsisten menunjukkan flavonoid dalam teh meningkatkan status nitric oxide dan meningkatkan fungsi endotel yang sangat berguna bagi kesehatan jantung,” kata Dr.Jonathan Hodgson, peneliti.

Hasil studi yang dilakukan secara acak juga menunjukkan konsumsi teh membuat lapisan dalam pembuluh darah semakin baik. Bukan hanya itu teh juga mengurangi risiko hipertensi dan tekanan darah rendah.

Tunggu apa lagi, minumlah teh Anda sekarang.

Sumber :http://kompas.com

Jakarta – Mengapa bau mulut bisa terjadi? Ini dikarenakan setelah 30 menit tidak makan, keasaman mulut akan meningkat karena sisa asam tidak diangkat, hal inilah yang menyebabkan mulut menjadi tidak segar. Berikut dua buah tanaman herbal
untuk mengurangi keasaman dan bau mulut. Read the rest of this entry »

Jakarta – 7 Rektor dari Perguruan Tinggi Negeri (PTN) menemui Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Mahfud MD untuk meminta penjelasan status keuangan masing-masing kampus. Hal ini terkait putusan MK tentang UU Badan Hukum Milik Nasional (BHMN) yang dibatalkan MK, beberapa waktu lalu.

Ketujuh kampus tersebut yaitu ITB Bandung, UI Depok, UGM, IPB Bogor, UPI Bandung, Unair Surabaya dan USU Medan. Read the rest of this entry »

JAKARTA – Wacana pengajuan interpelasi atas kekisruhan antara pemerintah Indonesia dan Malaysi menuai pro dan kontra. Salah satu pendukung pengajuan interpelasi itu yakni Direktur Lingkar Madani untuk Indonesia (LIMA) Ray Rangkuti.

Meski demikian, Ray meminta agar interpelasi tersebut jangan dipolitisasi untuk menjatuhkan pihak tertentu. Read the rest of this entry »